Background

Angka sepuluh mempunyai makna yang penting di berbagai peradaban, kebudayaan, dan agama. Ahli matematika Yunani kuno, Pythagoras menganggap angka 10 sebagai angka kesempurnaan. Dalam tradisi Kristen dan Yudaisme, diperkenalkan 10 Perintah Tuhan, sebagai perintah asasi yang menuntun hidup rohani dan sosial manusia. Buddhisme mengenal sepuluh perintah agama, lima yang harus dijalani kaum biksu/biksuni dan lima lainnya bagi kaum awam. Dalam pertumbuhan anak, usia sepuluh adalah permulaan akil balig, di mana seorang anak bersiap meninggalkan masa kanak-kanaknya beranjak menuju remaja, penuh antusiasme, energi tetapi juga penuh tantangan. Dalam bahasa Inggris dikenal istilah growing pains untuk menggambarkan dinamika ini.

ICRS menjelang usianya yang kesepuluh juga melihatnya sebagai momen penuh makna. Sedikitnya proses menjadi sepuluh tahun adalah proses pembelajaran, penyesuaian diri, dan pertumbuhan. Sepuluh tahun mencerminkan perjuangan panjang untuk senantiasa menyelaraskan sikap dan tindakan dengan visi dan misi semula. Ada banyak tantangan dan duka selama menjalani proses ini, sekaligus pula sukacita, dan  jika dapat dilewati dengan baik, semua ini tidak lepas dari kerja sama erat yang terus dipelihara dan diupayakan di antara ketiga lembaga pendukung konsorsium ini.

Tanpa tantangan ICRS tidak mungkin dapat berkembang sejauh ini. Ada beberapa hal perlu dirayakan, antara lain adalah kesepakatan untuk melegalkan konsorsium ini dalam bentuk Perhimpunan pada tanggal 20 Oktober 2015, capaian-capaian akademik berupa enam belas doktor sebagai buahnya, penelitian bertaraf internasional seperti penelitian kolaboratif sembilan negara yang dikoordinir oleh ICRS, dan beragam inisiatif antar-iman. Namun ada pula yang masih menjadi tantangan, di antaranya pengakuan legal-institusional pola pendidikan kolaboratif yang bernaung di bawah sebuah konsorsium.

Tidak berlebihan kiranya jika dalam menyongsong dasawarsa ICRS, momen ini dijadikan sebagai momen yang penuh makna dan kebersamaan, sebagai momen 10th ICRS Anniversary.

Tema dan Tagline Perayaan

Tema dan tagline yang ditetapkan panitia untuk perayaan ini adalah “Wisdom through inter-faith learning and research” dan “Celebrate diversity!” Dalam perjalanan panjang mengelola program doktoral dan mengembangkan wacana antar-iman secara akademis, ICRS diasah melalui beragam tantangan dan pergumulan. Tantangan dan pergumulan ini adalah pembelajaran (learning) yang menghasilkan kerendahan hati dan kearifan (wisdom). Nilai-nilai tersebut yang terangkum dalam tema 10th ICRS Anniversary ini, yaitu bahwa dalam menjalankan panggilannya sebagai lembaga pendidikan dan penelitian, ICRS menjadi lebih arif dan menghidupi kearifan itu. Nilai-nilai ini pula yang ingin diartikulasikan, dibagikan dan ditularkan dalam berbagai aktivitas perayaan.

Sementara tagline “Celebrate Diversity!” merupakan semangat inti dan jatidiri ICRS yang merayakan keberagaman. Nilai tersebut ingin ditularkan kepada sebanyak mungkin orang dengan keyakinan bahwa dengan perayaan keberagaman ini kebaikan bersama dapat dicapai.

Perayaan 10 tahun ini menjadi momen untuk:

  • Menyegarkan kembali visi dan misi ICRS yang semula.
  • Lebih terlibat lagi dalam memberi sumbangsih bagi penyelesaian persoalan bangsa Indonesia, regional maupun internasional.
  • Meneguhkan kembali simpul-simpul persahabatan, persaudaraan, dan kerja sama di antara ketiga universitas pendukung konsorsium.
  • Mengekalkan sisi kelembagaan dengan memperkenalkan gagasan konsorsium untuk menjadi bagian dari perkembangan sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Capaian selama sepuluh tahun dapat menjadi bukti akan sahih dan pentingnya model kolaborasi konsorsium ini.
  • Semakin memperkenalkan ICRS di hadapan khalayak yang lebih luas sekaligus menjadi momen edukasi bagi masyarakat Indonesia tentang gagasan hubungan antar-agama yang harmonis.
  • Memperkuat kerja sama dengan mitra-mitra lama, sekaligus membangun kerja sama baru dengan mitra-mitra potensial lainnya.
  • Memperkenalkan wacana antar-iman/-agama secara dini kepada generasi muda. Diharapkan generasi ini nantinya dapat menjadi agen perdamaian sekaligus menjadi sumber segar bagi intelektual-intelektual baru berwawasan antar-iman/-agama.