Seminar Nasional: Agama dan Harkat Kemanusiaan di Era Sintesis

Tuesday, March 19th, 2019, 14:30 WIB

Seminar Nasional

“Agama dan Harkat Kemanusiaan di Era Sintesis”

(Religion and Human Dignity in the Age of Synthesis)

 

Latar Belakang

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa tidak ada satu pun persoalan umat manusia hari ini yang dapat diselesaikan oleh satu bangsa, negara, agama atau pun satu disiplin ilmu. Persoalan umat manusia sudah sedemikian cepat dan rumit hingga mencapai kompleksitas tinggi lagi pula komprehensif dan masif. Beragam perubahan yang terjadi, termasuk cuaca, hampir tidak lagi dapat diprediksi dengan menggunakan alat proyeksi maupun trajektori konvensional. Dengan berbagai perkembangan belakangan ini, umat manusia mulai sadar bahwa “everything is connected to everything else”, segala sesuatu terkait dengan segalanya. Dengan kata lain, interconnectivity sudah dipastikan menjadi kunci dari pemahaman yang baik akan realitas super kompleks di era (epoch) ini.

Dalam konteks ini, para ilmuwan dituntut untuk menjawab berbagai persoalan besar ini dengan pendekatan disiplin ilmu yang secara kaku tidak dikekang oleh sekat-sekat birokasi dan institusi seperti program studi, fakultas bahkan universitas. Tak pelak lagi, ilmuwan haruslah terbebaskan atau minimal dijauhkan dari ‘tangan-tangan besi’ rezim birokrasi yang senantiasa haus akan kontrol dan pengawasan administrasi, yang pada gilirannya hanya akan menjauhkan para ilmuwan dan pemikir dari pencarian solusi kreatif atas persoalan-persoalan besar yang dihadapi umat manusia dan masa depannya yang serba tidak menentu.

Semua pihak punya peran dalam memberikan sumbangsih bagi penyelesaian persoalan-persoalan besar saat ini. Pola-pola pikir konvensional yang didasari oleh siloisasi/kompartementalisasi pengetahuan, sudah usang dan tidak dapat diandalkan lagi untuk memecahkan persoalan-persoalan yang tidak mengikuti pola perubahan yang linear dan predictable. Artinya, ilmuwan kontemporer harus berhadapan dengan tantangan untuk menciptakan scientific breakthroughs (terobosan-terobosan keilmuan) demi menghadapi non-linear change yang saat ini sedang terjadi.

Karena itu, kita dapat berargumentasi bahwa umat manusia sudah melewati zaman di mana perbedaan dipertentangkan. Dapat dikatakan bahwa kita sudah memasuki  Era Sintesis (Age of Synthesis), dimana beberapa pihak berkolaborasi untuk mencapai suatu tujuan bersama. Perlu dihadirkan kondisi imperatif yang kondusif terhadap pengembangan pengetahuan dan pendidikan agama yang berwawasan kerahmatan terhadap sesama manusia dan alam semesta. Itu sebabnya, linearitas justeru bertolak-belakang dengan realitas dan semangat zaman serta perjuangan meraih pemahaman kondisi sesungguhnya yang dihadapi umat manusia. Seiring dengan Era Sintesis ini, maka pemberdayaan Complexity Science dan promosi mengenai multi-, inter- dan trans-disciplinarity menjadi keharusan mutlak, jika memang kita semua mempunyai komitmen pada sustainability atau keberlanjutan hidup umat manusia.

Agama dan Martabat Kemanusiaan

Agama dan martabat manusia tidak dapat dipisah-pisahkan. Di Indonesia, kita kerap mendengar bahwa agama pada hakikatnya bertujuan untuk “memanusiakan manusia”. Klaim ini tentu tidak berlebihan dan sudah barang tentu berasal dari ajaran adiluhung yang sudah turun-temurun selama beratus-ratus tahun lamanya. Banyak agama dan kepercayaan yang sudah tumbuh dan berkembang di Indonesia, baik yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi, yang kerap disebut aliran atau penghayat kepercayaan  atau agama lokal di Nusantara, maupun World Religions atau Agama-Agama Dunia yang dibawa dari Subkontinen Asia, Timur Tengah, daratan Cina, Barat maupun kawasan lainnya.

Semua agama berhak hidup di bumi Pancasila dan dijamin kebebasannya oleh konstitusi dan Undang-Undang. Meski demikian, dalam praktiknya masih jauh dari ideal. Respon masyarakat terhadap perkembangan agama kerap memicu minoritisasi, intoleransi, diskriminasi, persekusi, friksi dan konflik. Dengan kehadiran mayantara (Internet), media sosial (medsos) dan menguatnya kondisi Post-Truth Society (Masyarakat Pasca-Kebenaran), isu dan peran agama menjadi penting sekaligus problematis. Minoritisasi, intoleransi, diskriminasi, persekusi, friksi dan konflik ternyata justeru mengalami augmentasi di dunia mayantara, sehingga sulit dibendung. Untungnya, berbagai regulasi dan kebijakan sudah diambil oleh negara untuk memitigasi persoalan yang dapat mengarah pada polarisasi sosial bahkan disintegrasi bangsa.

Berdasarkan hasil pengamatan dan riset, justeru hal inilah yang memicu bertambah kompleksnya urusan multikulturalisme dan manajemen keragaman agama di Indonesia dan negara-negara lain. Pendangkalan dan penyempitan pemahaman agama ditengarai terjadi tidak hanya di sekolah-sekolah dan kampus-kampus melainkan juga di keluarga dan rumah-rumah ibadah akibat dari model belajar agama instan yang diperoleh dari Internet dan media sosial. Berbagai informasi, ideologi dan ajaran simpang-siur datang silih berganti, tanpa batasan dan saringan. Peran uswah atau teladan dilupakan dan kearifan lokal ditinggalkan.

Terlepas dari perkembangan negatif tersebut, ada satu elemen dasar yang boleh jadi menjembatani segala agama, keyakinan dan kepercayaan yang ada, yakni human dignity atau martabat kemanusiaan  (al-karamah al-insaniyyah) yang tak terpisahkan dari jati diri kita sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan. Karena semua agama dan kepercayaan pada hakikatnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, walau mereka menggunakan bahasa, logika dan justifikasi yang berbeda-beda. Tidak diragukan lagi, harkat dan martabat kemanusiaan menempati posisi yang penting dan esensial dalam setiap ajaran agama, keyakinan dan kepercayaan. Jika ada agama, keyakinan dan kepercayaan yang tidak menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, niscaya tidak ada pengikutnya dan akan sirna dengan sendirinya.

Oleh sebab itu, “memanusiakan manusia” adalah cara bangsa Indonesia membahasakan fungsi utama agama, keyakinan dan kepercayaan. Di situ pula, agama membantu manusia mengenali dirinya sendiri dan menghindari proses dehumanisasi, yang bertentangan dengan martabat kemuliaan manusia itu sendiri. Konflik dengan kekerasan (violent conflict) kerap menyandera martabat manusia secara masif dan sistematis. Keragaman agama, keyakinan dan kepercayaan yang tidak dikelola, diatur dan dipahami dengan baik dapat juga mengakibatkan pengikisan terhadap martabat manusia secara perlahan tapi pasti.

Era Industri 4.0 dan Tantangan Pendidikan Agama

Sealur dengan kondisi sintesis di atas orang juga memperbincangkan kondisi disrupsi (disruption) pada masyarakat kita. Bila berbicara era disrupsi yang paling banyak diperbincangkan adalah topik Industry 4.0 – sekalipun menjadi pertanyaan apakah Indonesia secara berurutan pernah mengalami Industry 1.0, 2.0, dan 3.0 untuk tiba pada yang 4.0? Selain perubahan di bidang industri, orang juga memperbincangkan disrupsi yang terjadi di bidang yang lain seperti pendidikan, keamanan, kesehatan, komunikasi dan sebagainya, tetapi masih sangat sedikit yang secara serius meneliti dampak dari Industry 4.0 ini pada aspek kebudayaan dan sosial, pada model ekspresi serta pola relasi keagamaan, pada aspek harkat dan martabat kemanusiaan pada masa disruptif ini.

Manifestasi yang paling nyata dari era Industry 4.0 ini adalah perkembangan di sekitar dunia Mayantara (Internet) dan media sosial (medsos). Keduanya meniscayakan terjadinya massifikasi hysteria sharing dan viralitas pesan, yang dampak sosialnya tak terbayangkan, baik yang positif maupun negatif, semisal berkembangnya ujaran kebencian (hate speech), polarisasi sosial, hoaks, dan lain sebagainya. Mayantara dan medsos dapat menjadi katalis untuk membangun toleransi sekaligus katalis untuk sikap intoleransi. Menjadi tantangan besar untuk mewujudkan Mayantara dan medsos sebagai media penyebar toleransi.

Menjadi pertanyaan pula bagaimana dengan dunia pendidikan, dan secara khusus pendidikan agama, sebagai basis peradaban dan etika dapat berkontribusi di era disrupsi ini? Apakah pendidikan agama dan tentang agama yang kita praktikkan di Indonesia, dimana masyarakatnya sangat majemuk, sudah memadai? Mengapa, berdasarkan beberapa riset, justru guru agama di semua agama, menjadi sosok penebar intolerensi di masyarakat? Bagaimana pendidikan agama yang diajarkan di kelas menjadi antirealitas dan ahistoris?

Dalam kaitannya dengan pendidikan agama dan harkat kemanusiaan, penting sekali Indonesia membangun literasi keagamaan untuk memitigasi beragam permasalahan yang terkait dengan konservatisme yang berkembang. Literasi keagamaan bukan berarti menambah pelajaran agama di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Namun, literasi keagamaan yang dimaksudkan di sini adalah membangun kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya keberagaman agama. Artinya, bagaimana seseorang yang mengimani agamanya dapat menghargai perbedaan dan berinteraksi secara sehat dengan orang-orang yang berbeda agama dan kepercayaan.

Jadi, literasi keagamaan disini bukan ‘belajar agama’, tetapi ‘belajar tentang agama’, dan bagaimana nilai-nilai agama dapat berkontribusi secara positif terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui literasi keagamaan dan edukasi publik, beragam elemen bangsa Indonesia dapat berkoeksistensi, berinteraksi dan berkolaborasi dengan baik, tanpa harus mengorbankan jati diri dan identitas keagamaan.

Tujuan

  1.  Merumuskan konten  dan metode deseminasi  pengarusutamaan literasi keagamaan;
  2. Melakukan edukasi literasi wacana agama melalui Mayantara;
  3. Merumuskan policy Paper untuk dapat disampaikan kepada Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan selanjutnya diserahkan kepada Kementerian atau Lembaga Negara yang terkait.

Output Kegiatan Seminar & Lokakarya Terbatas

  1. Rumusan konten dan metode deseminasi pengarusutamaan literasi keagamaaan yang sudah didiskusikan dalam seminar yang direncanakan dihadiri oleh 250 orang dari lembaga yang relevan;
  2. Edukasi literasi wacana agama melalui Mayantara terhadap 250 orang katalis yang akan menyebarkan kepada pihak yang lain;
  3. Policy Paper  (Makalah kebijakan) tentang pentingnya literasi keagamaan dan Mayantara untuk kehormatan dan martabat kemanusiaan untuk diserahkan kepada pemerintah, c.q. Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), kementerian dan lembaga negara lainnya dan organisasi kemasyarakatan yang mengelola lembaga pendidikan.

Pembicara Seminar

  1. Prof. Dr. Musdah Mulia
  2. Dr. Yudi Latif
  3. Dr. Arqom Kuswanjono
  4. Dr. B. Herry Priyono
  5. Dr. Novi Poespita Chandra/Dr. M. Nur Rizal
  6. Dr. Siti Syamsiyatun
  7. Dr. Ahmad Syams Madyan
  8. Dr. Asnath Niwa Natar
  9. Bante Nyana Suryanadi Mahathera
  10. Rosarita Niken Widiastuti, M.A.
  11. Dr. Leonard Epafras
  12. Irfan Amalee, M.A.

Moderator Seminar

  1. Prof. Dr. Toeti H. Rooseno
  2. Dr. Tamrin A. Tamagola
  3. Prof. Dr. Mayling Oey Gardiner

Waktu Pelaksanaan Kegiatan

(Seminar)

Hari/Tanggal   : Kamis, 25 April 2019

Waktu             : 08:00 – 17:00 

Tempat            : Ruang Seminar Sekolah Pascasarjana Lintas Disiplin UGM